LipuranUTAMA.com – Tak cukup hanya menggelar workshop tentang menulis puisi, kali ini Pecandu Aksara (PA) lanjut menggelar workshop baca puisi, di Cafetaria 99, Jalan Pengayoman, Makassar, Minggu (27/8/2017) malam.

Workshop yang dihadiri 20 orang peserta tersebut, menghadirkan penulis dari buku antologi puisi berjudul “Benang Ingatan” dan “Sepotong Rembulan”, Batara Al-Isra, sebagai narasumber dan Bang O dari Komunitas Aksara Merdeka yang juga termasuk anggota PA sebagai pemandu acara.

Dalam penyampaiannya, Andi Batara mengungkapkan bahwa saat ini masih banyak orang yang gaya membaca puisinya itu monoton, menghentak dari awal dan itu turun temurun diajarkan.

“Umumnya gaya membaca puisi yang sering diajarkan di Indonesia itu selalu harus menghentak dari awal, padahal sebenarnya tidak seperti itu,” tegasnya.

Lebih lanjut ia menyebutkan, bahwa hal pertama yang perlu diketahui sebelum membaca puisi yakni tahu membedakan antara puisi kamar dan puisi panggung sehingga nantinya mempermudah menentukan gaya baca puisi yang akan dipakai.

“Jadi puisi kamar itu disebut juga puisi gelap, yakni puisi yang sulit dicerna maknanya dan membacakannya lebih tenang, kalau puisi terang atau puisi panggung maknanya lebih gamblang dan dibacanya ya di panggung dengan intonasi yang menggebu-gebu,” jelasnya.

Selain itu, menurut dia, karakter suara seseorang sangat mempengaruhi jenis puisi yang bisa dibawakannya. Jika suaranya keras, maka ia cocok membaca jenis puisi terang begitu pun sebaliknya. Namun, hal itu kembali lagi kepada yang membacakan puisi.

Olehnya ia menyarankan, untuk mengenali lebih awal karakter suara yang dimiliki. “Kenali dulu karakter suara anda cocoknya dimana sehingga nanti saat membacakan puisi itu akan mengena ke hati pendengar,” pungkasnya.

Usai materi, acara semakin meriah, peserta satu-persatu diberikan kesempatan untuk mempraktekkan langsung membaca puisi sekaligus evaluasi atas penampilan mereka. Tak ketinggalan Andi Batara pun membacakan puisinya sebagai penutup dari workshop tersebut.

Sementara itu, Fahri Djaman, salah satu peserta workshop, juga selaku founder komunitas PA yang ditemui usai kegiatan mengungkapkan alasannya menggelar workshop baca puisi.

“Kita gelar workshop itu sesuai kebutuhan member komunitas, biasanya juga kita lihat ada yang bisa menulis puisi tapi kurang tahu membacakan puisinya, jadi setelah ini diharapkan tahu kedua-duanya,” tutupnya.

 

Ant*

Bagikan:

Komentar Anda