EDfow.com – Uji kompetensi adalah proses untuk mengukur pengetahuan, keterampilan dan sikap tenaga kesehatan sesuai standar profesi, khususnya yang kita bahas kali ini adalah perawat.

Uji kompetensi memberikan jaminan bahwa lulusan keperawatan mampu melaksanakan peran profesinya secara aman dan efektif di masyarakat.

Dosen Keperawatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (FKM UMI), Brajakson Siokal, S.Kep., Ns., M.Kep, mengatakan persentase kelulusan peserta ujian kompetensi masih relatif rendah.

“Menurut data statistik, hanya 40 persen dari total peserta yang lulus dari ujian kompetensi ini. Lebih banyak yang dinyatakan tidak lulus,” ujarnya saat ditemui di ruangannya, Jumat (22/9/2017).

Pria kelahiran Langge Wakatobi 28 tahun silam ini memaparkan, beberapa kendala mahasiswa yang tidak lulus uji kompetensi.

Pertama, mempelajari contoh soal yang tidak terstandar, lalu dishare ke teman, dan akhirnya tidak lulus berjamaah.

Kedua, tidak punya strategi saat ujian, banyak yang asal nekat mengikuti ujian tanpa persiapan amunisi, akhirnya hasilnya juga asal.

Ketiga, tidak memahami anatomi soal. Padahal sebenarnya anotomi soal secara umum ada kasus, pertanyaan, dan opsi jawaban.

Keempat, tidak memahami pola soal. Tidak tau harus memulai dan mengakhiri soal dari mana ke mana.

Brajakson menjelaskan, meningkatkan kelulusan uji kompetensi perawat merupakan tuntutan bagi semua pihak. Temasuk dirinya, selaku pemerhati ujian kompetensi.

“Selain menjadi dosen, saya juga aktif dalam beberapa kegiatan workshop maupun seminar tentang uji kompetensi perawat. Kemarin diundang membawakan materi hingga ke Sulawesi Tenggara,” paparnya.

 

ANT*

Bagikan:

Komentar Anda