EDfow.com – Kesan sampah yang dulunya diindentikkan dengan kotor dan jorok kini telah berubah semenjak lahirnya program Bank Sampah. Sampah kini jadi primadona baru lantaran bisa bernilai ekonomis bagi warga.

Penerapan Bank Sampah itu juga kini telah diterapkan oleh Masyarakat Pulau Lae-Lae Kota Makassar. Masyarakat di wilayah itu mengumpulkan sampah di daerah laut, kemudian menimbangnya di Bank Sampah Pusat yang berada di daratan.

Johora Dg Janneng Ketua Bank Sampah Dolpin, RT 1 RW 04, Kelurahan Lae-lae menuturkan sampah non organik yang berasal dari wisatawan yang berkunjung ke daerah mereka, maupun dari sampah rumah tangga warga itu mereka kumpulkan dengan bantuan 80 orang nasabah Bank Sampah miliknya.

“Mereka setiap hari kumpulkan sampah, lalu mereka setor ke kami. Khusus sampah yang mengapung di lautan, saya sendiri yang biasa ambil, karena anggota ndak mau repot, kan mesti dikeringkan lagi,” kata Johoria.

Dg Janneng berhasil ditemui EDfow.com saat dalam proses penimbangan sampah yang mereka kumpulkan oleh petugas Bank Sampah Pusat Kota Makasaar, di salah satu tepi laut yang terhubung dengan Pantai Losari, Jalan Penghibur, Selasa (10/10/2017).

Ia ditemani oleh Lurah Lae-Lae, Abdul Hamid dan 3 orang anggota Bank Sampah Dolpin. Saat itu, tumpukan sampah berupa plastik, botol plastik, kertas dan karton bekas yang mereka telah kepak dalam sebuah karung besar tengah ditimbang.

Serta telah susah payah mereka angkut dan seberangkan melewati laut menggunakan perahu dari tempat tinggal mereka di pulau, sementara ditimbang oleh petugas Bank Sampah lalu dimasukkan ke dalam sebuah mobil yang telah disediakan.

“Biasanya satu bulan sekali, tapi karena kemarin ada pesta keluraga, kali ini dua bulan baru saya bawa ke sini. Anggota Bank Sampah Dolpin sudah 10 orang, hasil satu kali timbang biasanya bisa sampai dua juta,” tambahnya menutup.

Ia pun merasa bersyukur dengan hadirnya program Bank Sampah ini, lantaran sampah yang dulunya tidak berguna bisa menjadi uang. “Kadang juga kami tukar beras pakai sampah, minyak goreng, gas elpiji, pokonya semuanya pak,” tuturnya.

Ia menceritakan, setiap kali selesai proses penimbangan biasanya mereka langsung menarik sekitar Rp450 ribu untuk dijadikan modal pengumpulan sampah, serta biaya transportasi sampah dari laut ke darat.

Lurah Lae-Lae Abdul Hamid menuturkan, merasa beryukur dengan hadirnya program Bank Sampah ini karena selain dapat meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, program Bank Sampah juga dapat mereduksi sampah sehingga keindahan dan kebersihan Kota Makassar di pulau pun dapat terjaga.

“Sampah yang warga kumpulkan juga tidak semuanya mereka timbang. Mereka juga bikin usaha daur ulang sampah, seperti tas dari bekas minuman gelas dan botol,” ungkap Abdul Hamid di lokasi.

RSM*

The post Cerita Dg Janneng Angkut Sampah Sebrangi Laut Karena Manfaat Bank Sampah appeared first on EDfow.com.

Powered by EDfow.com

Bagikan:

Komentar Anda