EDfow.com – Indonesia merupakan salah satu negara dengan suku terbanyak di dunia, hingga setiap wilayah hingga pelosoknya memiliki suku dan budaya yang berbeda, suku yang dimiliki pun masing-masing punya keunikan tersendiri.

Utamanya pada Sulawesi Selatan, kali ini EDfow.com akan mengulas adat dan budaya yang ada di tana Toraja yang memiliki beragam macam adat hingga menjadi magnet bagi para turis dari beberpa negara.

Suku toraja atau to riaja merupakan suku yang tinggal di daerah pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan. Kita akan membahas 5 keuinikan dari suku Toraja ini, berikut penjelasannya :

1. Kopi toraja.

Bagi kalian pecinta kopi wajib untuk merasakan kenikmatan kopi dari daerah pegunungan ini, letak geografis dari tempat tinggal suku Toraja mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat kopi dari tanah toraja ini cukup di kenal di kanca Internasional. Kopi Toraja dijukuki sebagai “the quuen of coffe” karena citarasa dan aroma yang sangat memikat. Di negara Jepang penikmat kopi Toraja merupakan kelompok menengah keatas, karena untuk menikmati secangkir “the queen of coffe” mereka mesti membayar dengan harga yang cukup tinggi. Itu sebabnya kopi Toraja di negara ini dianggap sebagai barang yang elegan.

Di Indonesia sendiri harga kopi Toraja tidak begitu mahal, maka dari itu kita sebagai warga Indonesia tidak mesti merogok kocek dalam untuk menikmati kopi Toraja ini, jadi sudah sepantasnya kita sebagai warga Indonesia wajib untuk bangga dengan hasil sumber daya alam yang kitaa miliki.

2. Adu kaki “sisemba”.

Hal menarik lainnya dari suku Toraja adalah “sisemba” atau adu kaki yang dilakukan saat pesta panen sebagai ungkapan syukur atas hasil panen.
Sisemba di lakukan secara berkelompok dengan berpengangan satu dengan yang lain agar tidak mudah jatuh dan memudahkan dalam menyerang lawan menggunakan kaki, sisemba ini terlihat layaknya orang tawuran namun hanya menggunakan kaki untuk menyerang kelompok lain. Aturan dalam sisemba ini adalah hanya boleh menggunakan kaki untuk menyerang lawan dan tidak boleh menyerah lawan yang sudah terjatuh.
Walaupun sisemba terlihat sangat kasar namun warga toraja yang ikut dalam acara sisemba tidak menyimpan dendam dan tidak merlanjutkannya keluar arena.

3. Cara menyembeli kerbau.

Sejak dahulu suku toraja dalam kehidupannya tidak dapat terlepas dari kerbau, hampir disemua acara yang di laksanakan di Toraja terdapat kerbau sebagai makanan sajian. Selain sebagai bahan sajian dalam acara, kerbau juga di gunakan untuk keperluan ritual. kepercayaan tradisional dan sebagai alat takaran status sosial serta transaksi.
Nah hal menarik dari kerbau ini adalah cara penyembelihannya, masyarakat toraja melakukan penyembelihan tidak seperti masyarakat pada umumnya yang menidurkan badan kerbau dan diikat keras agar kerbau tidak memberontak saat di potong, masyarakat toraja menyembeli kerbau dalam keadaan berdiri dan dengan sekali tebasan pada leher kerbau, mungkin inilah yang menjadi alasan mengapa parang toraja mesti tajam.

4. Rambu solo atau upacara pemakaman.

Rambu solo adalah upacara adat pemakaman yang bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang meninggal menuju alam roh.
Di Toraja seseorang dikatakan meninggal ketika seluruh rangkaian upacara pemakaman telah dilaksanakan, jika belum jenazah tersebuh hanya di anggap sakit atau lemah.
Pelaksanaan upacara pemakaman adat Rambu Solo ini berlangsung selama satu minggu sesuai dengan status sosial jenazah. Semakin tinggu status sosial jenazah semakin banyak orang dan lama upcara pemakaman itu berlangsung.

5. Ma’nene atau upacara penggantian baju jenazah.

Sesuai dengan namanya dalam upacara adat Ma’nene ini jenazah leluhur yang berusia ratusan tahun dikeluarkan dan dibersihkan, setelah itu pakaian jenazah di ganti dengan yang baru, kemudian di kembalikan lagi ke tempat peristirahtan terakhirnya.
Waktu untuk melakukan upacara ini ditentukan oleh keluarga atau Ne’tomina sebutan untuk tetua adat di Toraja.

 

NLD

Bagikan:

Komentar Anda